Minggu, 30 Maret 2014

Pendidikan Anak Tuna Grahita

Pendidikan Anak Tuna Grahita. Anak tuna grahita sangat memerlukan pendidikan serta layanan khusus yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan untuk anak tuna grahita, yaitu :
  1. Kelas transisi, kelas ini diperuntukan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tuna grahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada di sekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
  2. Sekolah khusus (sekolah luar biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1), layanan pendidikan untuk anak tuna grahita model ini diberikan pada sekolah luar biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing atau pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama kemampuannya. Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tuna grahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tuna grahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1.
  3. Program terpadu, layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tuna grahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk mata pelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tuna grahita anak mendapat bimbingan (remidial) dari guru pembimbing khusus dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tuna grahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (learning difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (slow learner).
  4. Program sekolah di rumah, program ini diperuntukan bagi anak tuna grahita yang tidak mampu mengikuti pendidikan disekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya sakit, program dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orang tua, sekolah dan masyarakat.
  5. Pendidikan inklusif, model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip "Education For All". Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tuna grahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru atau pembimbing yang sama. Pada kelas inklusif, siswa dibimbing oleh 2 orang guru, satu guru reguler dan satu guru khusus.
  6. Panti (griya) rehabilitasi, panti ini diperuntukan bagi anak tuna grahita tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti ini lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
  • Pengenalan diri
  • Sensorimotor dan persepsi
  • Motorik kasan dan ambulasi (pindah dari satu tempat ketempat lain)
  • Kemampuan berbahasa dan komunikasi
  • Bina diri dan kemampuan sosial

0 komentar:

Posting Komentar